BATAM – Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-17 Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) yang digelar di Ball Room Aston Hotel & Residence, Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, sejak 18 hingga 20 Januari 2026.
Rakernas ke-17 APKASI menjadi forum strategis bagi para kepala daerah kabupaten se-Indonesia untuk memperkuat sinergi, menyatukan langkah, serta merumuskan kebijakan dan program pembangunan daerah yang selaras dengan arah pembangunan nasional. Rakernas kali ini mengusung tema “Wujudkan Asta Cita untuk Daerah yang Sejahtera”, dibuka langsung oleh Ketua Umum Apkasi, Bursah Zarnubi pada Minggu malam (18/1/2026). Hadir juga Rudy Mas’ud yang juga menjabat sebagai ketua umum APPSI. Diikuti oleh para bupati dan perwakilan pemerintah kabupaten dari seluruh Indonesia, serta menghadirkan berbagai agenda strategis yang membahas isu-isu aktual pemerintahan daerah.
Kehadiran Bupati Berau Sri Juniarsih Mas dalam agenda nasional ini menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Berau dalam mendukung penguatan peran pemerintah kabupaten, khususnya dalam menghadapi tantangan pembangunan, peningkatan pelayanan publik, serta pengelolaan potensi daerah secara berkelanjutan.
Pada kegiatan hari pertama (19/1/2026), Bupati Sri Juniarsih mengungkapkan langsung saat sesi dialog bersama Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman bahwa Berau salah satu yang menghasilkan coklat terbaik di Indonesia. Ia juga menyampaikan permohonan 100 hektar bibit kakao dan 100 hektar bibit kelapa.
“Kami memiliki cokelat terbaik di Indonesia, Pak dan sudah dilirik oleh dunia namun kami belum sanggup memenuhi permintaan pasar karena keterbatasan produksi," bebernya.
Merespon langsung, dengan tegas Andi Amran Sulaiman mengamini permohonan tersebut memberikan 2 kali lipat dari yang dimohonkan. 200 hektar bibit kakao dan 200 hektar kelapa akan diberikan kepada Kabupaten Berau. Komitmen tersebut disambut baik sebagai bentuk dukungan hilirisasi produk pertanian di Kabupaten Berau. Dukungan ini diharapkannya mampu memberikan peluang baru dalam pengembangan hilirisasi, terlebih Pemkab Berau juga sudah menetapkan 3 desa sebagai sentra pengolahan cokelat sebagai nilai tambah komoditas sekaligus penggerak roda ekonomi lokal. (Prokopim)