Jakarta - Kabupaten Berau mengenalkan kekayaan budayanya ke panggung nasional dalam peluncuran Tari Baliu Dalling dan Batik Derawan Maratua yang digelar di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia di Jakarta pada Kamis (30/07/2026). Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Ikatan Pecinta Batik Nusantara (IPBN) bersama Kementerian Kebudayaan RI, Danantara dan LPDP.
Hadir pada kegiatan tersebut Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas bersama Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan RI, Bambang Wibawarta, Ketua Dewan Pengawas IPBN, Sapta Nirwandar, Ketua Umum IPBN, Ayu Dyah Pasha, Ketua Dekranasda Berau, Edy Suswanto, jajaran pemerintah Kabupaten Berau serta para pegiat seni dan budaya.
Peluncuran Batik Derawan Maratua menjdi langkah awal pengenalan delapan motif batik yang terinspirasi dari kekayaan alam Kepulauan Derawan dan Maratua. Pada kesempatan ini dikenalkan 3 motif batik yakni Bokko Lumangi’ atau batim motif penyu, Buul Embal Nabang motif yang terinpirasi dari ubur-ubur air tawar di pulau Kakaban, dan Goyak atau ombak.
Dijelaskan bahwa seluruh motif batik tersebut terinspirasi dari keindahan alam Maratua dan Derawan. Selain keindahan biota lautnya, batik inj juga terinspirasi dari kejernihan lautnya sehingga didominasi oleh warna biru toska. Uniknya lagi, teknik batik nitik juga digunakan dalam prosesnya sebagai ciri khas.
Kegiatan tersebut dirangkai dengan fashion show yang menunjukkan setiap model batik. Bahkan Bupati sri Juniarsih Mas juga turut menjadi model peraga pada fashion show yang memamerkan motf batik baru ini. Para tamu terlihat antusias menyaksikan pertunjukan tersebut. Selain itu, ada persembahan tarian BABADA dan pertunjukan Tari Baliu Dalling secara langsung. Dimana tarian tersebut memadukan unsur tradisional dan modern yang diiringi lagu aransemen dari penggiat batik di IPBN.
Bupati Sri Juniarsih mengatakan, Kabupaten Berau tidak hanya dianugerahi keindahan alam yang mendunia, tetapi juga memiliki kekayaan seni, budaya, dan tradisi yang menjadi identitas masyarakat. Menurutnya, budaya merupakan warisan yang harus terus dijaga, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada masyarakat luas sebagai bagian dari pembangunan daerah.
“Berau memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa, khususnya sektor pariwisata. Namun, kekuatan tersebut harus didukung dengan pelestarian budaya agar identitas daerah tetap terjaga sekaligus menjadi daya tarik bagi wisatawan,” ujarnya.
Sri Juniarsih menilai peluncuran Batik Derawan Maratua dan Tari Baliu Dalling menjadi langkah strategis dalam memperkenalkan kekayaan budaya Berau di tingkat nasional. Ia berharap kedua karya tersebut mampu memperkuat citra Berau sebagai daerah yang kaya akan warisan budaya, sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi perkembangan ekonomi kreatif masyarakat.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan RI, Bambang Wibawarta, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam memajukan kebudayaan sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Menurutnya, budaya yang terus dihidupkan melalui berbagai karya akan turut menjaga keberlanjutan alam serta memperkuat identitas bangsa.
“Kolaborasi inilah yang kita butuhkan. Setiap motif batik yang lahir tidak hanya memperkaya koleksi wastra Nusantara, tetapi juga memperkuat identitas Indonesia di mata dunia. Kita tidak boleh berhenti pada pelestarian, tetapi juga harus mendorong budaya menjadi sumber inovasi, menghadirkan batik dengan desain yang modern, membawa tari ke panggung dunia, serta memanfaatkan teknologi secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Melalui peluncuran Batik Derawan Maratua dan Tari Baliu Dalling, Pemerintah Kabupaten Berau menegaskan komitmennya untuk terus melestarikan warisan budaya daerah sekaligus menjadikannya sebagai instrumen promosi pariwisata dan penguatan ekonomi kreatif. Diharapkan, kolaborasi antara pemerintah, pelaku seni, dan berbagai pemangku kepentingan dapat terus terjalin sehingga budaya Berau semakin dikenal, baik di tingkat nasional maupun internasional. (Prokopim)